Dear ,
behentilah memilah memilah,
berfikir akan ada yang memilih,
Dear ,
Aku tahu kau iri,
melihat yang mungkin saja nyata,
karena mereka pun tidak kau temui di dunia nyata,
tetapi bahagia yang tepancar dari mata mereka,
ku yakin ingin kau rasakan dan kau teruskan ke mataku.
Dear ,
Jika bisa memilih, ku tahu bukan ini yang akan kau pilih. klasik.
Tak ada yang berbeda memang darimu,
bahkan aku berfikir kau bisa lebih ‘mulia’ daripada yang orang lain punya
tapi ku tahu pasti bagaimana rasa itu menyiksamu,
memaksa untuk iri,
ketika rasa nyaman itu mereka dapatkan,
bergejolak hingga semua terlepas.
bukankah itu yang kau inginkan?
Dear ,
bersabarlah (sekali lagi),
kita tak tahu apa yang akan terjadi besok,
aku pun tak mau menghiburmu dengan menjajikan sesuatu yang tak ku tahu,
mungkin aku harus meminta maaf,
telah memaksamu harus percaya,
tapi apalagi yang bisa kita lakukan selain percaya?
menyerah? pasrah?
bukan itu yang ku mau.
berserah. itu harus.
aku selalu mengajarkanmu berserah,
bersyukur juga iya,
diluar daripada percaya.
meski terkadang aku mengotorimu dengan ‘penyakit’
tapi jauh lebih besar ke-memaksaan-ku
untuk membuatmu lebih mulia.
iya, lebih mulia saja,
apa yang terjadi besok, percaya saja bahwa semua adalah yang baik,
toh, sampai kapan kita bertahan disini, di dunia ini,
hanya Dia yang tahu.
Dear Hati.
-R-


